Ticker

6/recent/ticker-posts

AIR DAN BUIH

Peradaban dunia yang sedang eksis saat ini sedang menuju titik nadhir kehancuran. Ketika malam sudah mencapai puncaknya, maka itu pertanda bahwa malam pun akan segera berlalu yang akan disertai perubahan arah angin yang berhembus, angin yang datang dari darat akan berubah haluan menjadi dari laut.

Malam yang penuh dengan udara pembawa banyak penyakit akan berganti menjadi udara yang menyegarkan dan menyehatkan bagi yang menghirupnya. Sebuah peradaban yang hari ini penuh dengan kutuk akan berganti menjadi dunia yang penuh dengan berkat.

Namun dalam proses pergantian itu pasti dibutuhkan peran serta aktor atau pelaku, layaknya proses rotasi bumi dan matahari adalah serangkaian aktor yang menentukan siang atau malam pada alam ini.

Begitu pula tentang pergantian peradaban dari dzulumat (kegelapan) kepada nuur (penuh dengan cahaya), dibutuhkan aktor untuk menjadi kepanjang-tanganan Alloh. Yakni orang-orang yang telah mengikrarkan imannya kepada Alloh, mereka itulah yang menjadi aktor-aktornya.

Mu’min (orang yang beriman) essensinya bukan hanya sekedar percaya atau yakin, tetapi mereka harus berusaha sungguh-sungguh untuk memenuhi segala seruan Alloh dan rosul-Nya. Percaya atau yakin hanyalah salah satu bagian dari iman.

Iman tidak cukup hanya tasdiquuna biqolbi (dibenarkan dalam qolbu), tetapi harus juga iqroruna bil lisani (diikrarkan atau ucapkan dengan lisan). Dan yang menjadi sempurnanya iman seseorang ialah i’maluna bil arkaan (diamalkan atau laksanakan dengan perbuatan).

 وَمَا لَكُمْ لَا تُؤْمِنُوْنَ بِاللّٰهِ ۚوَالرَّسُوْلُ يَدْعُوْكُمْ لِتُؤْمِنُوْا بِرَبِّكُمْ وَقَدْ اَخَذَ مِيْثَاقَكُمْ اِنْ كُنْتُمْ مُّؤْمِنِيْنَ
Mengapa kamu tidak beriman kepada Allah, padahal Rasul mengajakmu beriman kepada Tuhanmu? Sungguh, Dia telah mengambil janji (setia)-mu jika kamu adalah orang-orang mukmin.

Sebuah peringatan yang harus menjadi acuan: ‘Dan mengapa kamu tidak beriman kepada Alloh padahal rosul menyeru kamu supaya kamu beriman kepada Robb-mu. Dan sesungguhnya Dia telah mengambil perjanjianmu (mitsaq) jika kamu adalah orang-orang yang beriman’. (Q.S. Al Hadiid[57]:8).

Dan firman-Nya : ‘Dan Alloh telah berjanji kepada orang-orang yang beriman diantara kamu dan mengerjakan amal-amal yang sholeh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa (kholifah) di bumi,

sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan Dia sungguh akan meneguhkan bagi mereka diin (system hidup) yang telah diridhai-Nya (Islam) untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentausa.

Mereka tetap mengabdi kepada-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik

(Q.S. An Nuur[24]:55)
Alloh telah berjanji didalam ayat tersebut bahwa ketika kondisi telah berubah dari dzulumat kepada nuur, maka pengelolaan bumi akan diserahkan kepada sebagian orang-orang yang beriman (min kum)

Yang perlu dicermati dalam ayat di atas jika melalui pendekatan ilmu nahwu dan sharaf adalah dipergunakannya kata ganti/dhomir min kum (Sebagian orang-orang yang beriman di antara kamu). Sejatinya dalam ilmu tersebut hanya dikenal 14 kata ganti, kum adalah salah satunya, sebagai kata ganti untuk orang ketiga jamak/kalian (laki-laki).

Kum disini merujuk kepada komunitas mu’min, pertanyaannya kenapa Alloh menggunakan bahasa minkum/sebagian? Jawabnya adalah predikat mu’min didapat setelah seseorang mengikrarkan janjinya kepada Alloh,

dalam kapasitas janjinya itu ia masih akan diuji lagi, dan tidak semua mu’min dapat melewati semua ujian-Nya, dengan kata lain Alloh hendak memisahkan mana mu’min yang benar dalam berjanji dan mana yang berdusta.

اَحَسِبَ النَّاسُ اَنْ يُّتْرَكُوْٓا اَنْ يَّقُوْلُوْٓا اٰمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُوْنَ
وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللّٰهُ الَّذِيْنَ صَدَقُوْا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكٰذِبِيْنَ
Penggenapan dari wahyu berikut ini : ‘Ahasibannaas ayyutroku a(n)yaquuluu aamannaa wahum laayuftanuum(a), walaqod fatannallaziina minqoblihim, falaya’ lamannalloh hulladziina shodaquu walaya’ lamannal kaadzibiin(a)’, : ‘Apakah manusia mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan:

Kami telah beriman’, sedang mereka tidak diuji lagi ?. Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Alloh mengetahui orang-orang yang benar dan mengetahui orang-orang yang dusta’. (Q.S. Al ‘Ankabuut[29]:2-3)

Bentuk pemisahan antara yang shidiq (benar) dan yang kidzib (dusta) Alloh perumpamakan seperti antara air dan buih. Dimana buih itu akan hilang dibawa angin, sedangkan air akan tetap tinggal di bumi dan memberikan manfaat bagi manusia. Simaklah ayat berikut

اَنْزَلَ مِنَ السَّمَاۤءِ مَاۤءً فَسَالَتْ اَوْدِيَةٌ ۢ بِقَدَرِهَا فَاحْتَمَلَ السَّيْلُ زَبَدًا رَّابِيًا ۗوَمِمَّا يُوْقِدُوْنَ عَلَيْهِ فِى النَّارِ ابْتِغَاۤءَ حِلْيَةٍ اَوْ مَتَاعٍ زَبَدٌ مِّثْلُهٗ ۗ كَذٰلِكَ يَضْرِبُ اللّٰهُ الْحَقَّ وَالْبَاطِلَ ەۗ فَاَمَّا الزَّبَدُ فَيَذْهَبُ جُفَاۤءً ۚوَاَمَّا مَا يَنْفَعُ النَّاسَ فَيَمْكُثُ فِى الْاَرْضِۗ كَذٰلِكَ يَضْرِبُ اللّٰهُ الْاَمْثَالَ ۗ

Alloh telah menurunkan air (hujan) dari langit, maka mengalirlah air di lembah-lembah menurut ukurannya, maka arus itu membawa buih yang mengembang. Dan dari apa (logam) yang mereka lebur dalam api untuk membuat perhiasan atau alat-alat, ada (pula) buihnya seperti buih arus itu.

Demikianlah Alloh membuat perumpamaan (bagi) yang benar dan bathil. Adapun buih itu, akan hilang sebagai sesuatu yang tak ada harganya; adapun yang memberi manfaat kepada manusia, maka ia tetap tinggal di bumi. Demikianlah Alloh membuat perumpamaan-perumpamaan’. (Q.S. Ar Ra’d[13]:17)

Di dalam komunitas mu’min orang-orang yang khianat (nifaq) itulah yang dimaksud dengan buih. Segala amalan yang telah mereka lakukan akan dinilai sia-sia (bathil) di mata Alloh. Sedangkan orang-orang yang mendapat balasan yang baik ialah mereka yang benar dalam keimanannya

adalah mereka yang apabila diingatkan Alloh gemetarlah qolbu mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Robb-lah mereka bertawakkal, (yaitu) orang-orang yang mendirikan sholat dan yang menafkahkan sebagian dari rizqi yang Kami berikan kepada mereka’. (Q.S. Al Anfaal[8]:2-3)

Ketika qiyamah telah terjadi mereka yang berlaku khianat akan mengalami penyesalan yang sedalam-dalamnya, karena tidak memenuhi seruan Alloh dan rosul-Nya apabila diseru : ‘Bagi orang-orang yang memenuhi seruan Rabb-nya (disediakan) pembalasan yang baik.

Dan orang-orang yang tidak memenuhi seruan Robb-nya, sekiranya mereka mempunyai semua (kekayaan) yang ada di bumi dan (ditambah) sebanyak isi bumi itu lagi besertanya, niscaya mereka akan menebus dirinya dengan kekayaan itu. Orang-orang itu disediakan baginya hisab yang buruk dan tempat kediaman mereka ialah Jahannam dan itulah seburuk-buruk tempat kediaman. (Q.S. Ar Ra’d[13]:18)

Penyesalan dan tindakan tersebut dapat terjadi karena tidak adanya kesadaran atas mereka terhadap apa-apa yang telah dinubuahkan. Mereka berfikir bahwa hidup akan berjalan seperti saat ini saja dan tidak akan mengalami perubahan apapun. Ketidaksadaran itu muncul karena cerebelum/sudur (organ kesadaran) dalam qolbu manusia sudah tidak lagi dipenuhi cahaya yang bersumber dari wahyu.

Hanya orang-orang yang sadar akan apa yang saat ini terjadi dan apa yang akan terjadi di masa depanlah yang akan selamat dalam miniti jalan (kembali) menuju kepada awal kefitrahan dirinya, seperti itulah kapasitas ulul albab. : ‘Adakah orang yang mengetahui bahwasanya apa yang diturunkan kepadamu dari Robb-mu itu benar sama dengan orang yang buta? Hanyalah orang-orang yang berakal (ulul albab) saja yang dapat mengambil pelajaran.’ (Q.S. Ar Ra’d[13]:19).

Dan siapakah orang yang Alloh maksud dengan ulul albab: ‘(yaitu) orang-orang yang memenuhi janji Alloh dan tidak merusak perjanjiannya. Dan orang-orang yang menghubungkan apa-apa yang Alloh perintahkan supaya dihubungkan, dan mereka takut kepada Robb-nya dan takut kepada hisab yang buruk.

Dan orang-orang yang sabar karena mencari keridhoan Robb-nya, mendirikan sholat, dan menafkahkan sebagian rizqi yang Kami berikan kepada mereka, secara sembunyi-sembunyi atau terang-terangan serta menolak kejahatan dengan kebaikan; orang-orang itulah yang mendapat tempat kesudahan (yang baik’) (Q.S. Ar Ra’d[13]:20-22).

 
الَّذِيْنَ يُوْفُوْنَ بِعَهْدِ اللّٰهِ وَلَا يَنْقُضُوْنَ الْمِيْثَاقَۙ
وَالَّذِيْنَ يَصِلُوْنَ مَآ اَمَرَ اللّٰهُ بِهٖٓ اَنْ يُّوْصَلَ وَيَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ وَيَخَافُوْنَ سُوْۤءَ الْحِسَابِ ۗ
وَالَّذِيْنَ صَبَرُوا ابْتِغَاۤءَ وَجْهِ رَبِّهِمْ وَاَقَامُوا الصَّلٰوةَ وَاَنْفَقُوْا مِمَّا رَزَقْنٰهُمْ سِرًّا وَّعَلَانِيَةً وَّيَدْرَءُوْنَ بِالْحَسَنَةِ السَّيِّئَةَ اُولٰۤىِٕكَ لَهُمْ عُقْبَى الدَّارِۙ

Ketika seseorang telah memenuhi kriteria sebagai ulul albab, maka Alloh berikan kepada mereka: ‘(yaitu) jannah ‘adn yang mereka masuk ke dalamnya bersama-sama dengan orang-orang yang sholeh dari bapak-bapaknya, isteri-isterinya dan anak cucunya, sedang malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu; (sambil mengucapkan): “Salamun ‘alaikum bima shobartum (keselamatan atasmu berkat kesabaranmu). Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu’ (Q.S. Ar Ra’d[13]:23-24).

Jannah ‘adn (yang dekat) maksudnya ialah struktur yang dibangun atas dasar keimanan dan pengabdian kepada-Nya dalam rangka menegakkan system-Nya agar berlaku di muka bumi untuk mengatur seluruh manusia. Dimana dalam proses pengabdian tersebut secara perlahan mengikis kemusyrikan yang menempel pada setiap qolbu mu’min mubaligh. Kriteria ulul albab yang telah Alloh tetapkan tersebut di atas itulah sebagai komponen pembersih kemusyrikan diri 

Jika mu’min hari ini berlaku bertentangan dengan kriteria ulul albab tersebut, maka yang diperolehnya bukanlah jannah melainkan naar jahannam. Bahkan mereka Alloh kutuk dengan ditarik-Nya mereka berangsur-angsur kepada kebinasaan. Pada tahap awal dikeluarkan-Nya mereka dari struktur, lalu mereka akan kembali kepada kehidupan hayawannya, disini terkadang kehidupan mereka lebih rusak daripada sebelum masuk ke dalam struktur, atau bahkan lebih egois.  

وَالَّذِيْنَ يَنْقُضُوْنَ عَهْدَ اللّٰهِ مِنْ ۢ بَعْدِ مِيْثَاقِهٖ وَيَقْطَعُوْنَ مَآ اَمَرَ اللّٰهُ بِهٖٓ اَنْ يُّوْصَلَ وَيُفْسِدُوْنَ فِى الْاَرْضِۙ اُولٰۤىِٕكَ لَهُمُ اللَّعْنَةُ وَلَهُمْ سُوْۤءُ الدَّارِ

Orang-orang yang merusak janji Alloh setelah diikrarkan dengan teguh dan memutuskan apa-apa yang Alloh perintahkan supaya dihubungkan dan mengadakan kerusakan di bumi, orang-orang itulah yang memperoleh kutukan dan bagi mereka tempat kediaman yang buruk (jahannam) (Q.S. Ar Ra’d[13]:25)

Post a Comment

0 Comments